Batik di Keraton Cirebon

Kesultanan Cirébdri adalah sebuah Kesultanan Islam di Jawa Barat pada abad ke-15

dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dau pelayaran antar pulau dan antarnegara.
Berkembangnya batik di Keraton Cirebon berkaitan erat dengan masa perkembangan penyebaran agama Islam di wilayah ini di saat pemerintahan ulama besar salah seorang Wali songo, Sunan Gunung Jati, yang memerintah antara 1479-1568.

Seperti halnya di Keraton Majapahit dan Mataram Islam di Jawa Teugah, batik di Cirebon awalnya dibuat hauya untuk para Raja, terutama kaitanuya dengan upacara-upacara keagamaan, sebagai penghias istana maupun sebagai penolak bala. Motif-motifnya sangat kental dengan makna simbolis yang berkaitan dengan kosmologi Cirebon. Beberapa motif batik Cirebon yang tergolong ke daiam batik Keraton Cirebon di antaranya adalah Taman Arum Sunyaragi, Sunyaragjan, Wadas Singa, Patran Kangkung, Wadas Mantingan, Mega Mendung, Mega Malang, Ayarn Alas, Supit Urang, serta Taman Teratai.

Motif Taman Arum Sunyaragi adaiah gambaran yang mewakili kearifan local di lingkungan Kasuitanan Cirebon. Pada motif tersebut memuat ornarnen-ornarnen yang menggambarkan tradisi rekreatif sekaligus spiritual dari keiuarga sultan yang disimbolkan ke daiam keharuman taman. Apabila kita meneiusuri dari catatan sejarah, para keiuarga Keraton Cirebon banyak membuat tamarktaman yang di antaranya dipergunakan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta, Daiam bahasa Jawa yang juga populer digunakan di daerah Cirebon disebut “Manunggaling Kawuio Gusti” (menyatunya antara umat dan sang Pencipta). Taman-taman ini seiain sebagai unsur keindahan juga dijadikan tenipat menyepi Serta semedi bagi para sultan.
Sementara pada motif Wadas Singa tersimpan kearifan dua kekuatan yakni batu Wadas atau karaug dan singa.

Sementara ragani hias Wadasaii yang sangat menonjol pada batik Cirebon adalah gambaran batu karang dan bentuk gunungan. Motif gunungan memiliki makna suci yang mengarah pada gambaran kehidupan di alam baka yang kekal abadi. Jika ornament mega mendung dan wadasan kental bernuansa ornamen dari barang-barang karya seni asal Tiongkok, maka ornarnen gunungan adalah unsur asli Nusantara yang keberadaannya masih terus bertahan waiaupun pengaruh yang dibawa oieh Agama Hindu dan Islam berdatangan. Di saat berkembangnya agama Hindu, ornamen gunungan dianggap sebagai simbolisme Meru, yakni tempat bersemayamnya para dewa. Dari sejarah kepurbakalaan Islam di Wiiayah Cirebon, ragam bias Wadasan berfungsi sebagai simbolisme unsur kekuatan dan keteguhan sekaligus mnerupakan unsur dekoratif. Ornamen wadasan digunakan pada berbagai benda sakral, makam raja hingga ke kereta keraton.

Secara geografis, Cirebon merupakan pelabuhan besar yang menjadi jalur penting dalam lalu lintas kapal dagang dari Persia (sekarang Iran), India, Arab maupun pedagang-pedagang dari Eropa. Faktor ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangnya motif batik di wilayah ini.

Membaurnya berbagai unsur budaya, seni, kepercayaan, yang dibawa para pendatang pada masa-masa itu telah memberi warna baru yang kemudian melahirkan konsep batik pesisiran sebagaimana yang juga terjadi di Pekalongan, Juwana, lasem maupun Tuban. Pendatang dari Tiongkok yang membawa barangbarang seni berupa tekstil maupun keramik yang memuat ornament-ornamen unik. Hal inilah yang akhiirnya memengaruhi terciptanya motif-motif baru. Ornamen berupa binatang dalam dongeng seperti bentuk-bentuk naga dan burung. Sekalipun dari ornamen Nusantara sendiri telah banyak unsur-unsur tersebut, namun ciri-ciri binatang khayal dari Tiongkok berbeda dan menggunakan unsur ornamental yang berbeda.

Digunakannya ragam hias dari bangsa asing ini patut diduga awalnya merupakan pesanan dari pedagang asing tersebut, tetapi teruyata motif~motif unik ini juga diminati oleh konsumen lokal. Yang dimaksud konsumen lokal di sini tentu saja meliputi kalangan keraton yang kemudian mengapresiasi bentuk-bentuk baru tadi dengan memberikan kanduugan makna sesuai kepercayaan yang berkembang saat itu.
Bentuk ornamen wadasan dan mega mendung pada batik Cirebon berasal dari ornamen-ornamen benda seni asal Tiongkok yang membuktikan berbaurnya budaya Tiohgkok dalam kebudayaan Cirebon. Kejadian yang semakin mernpertautkan kedua budaya ini ditandai pula dengan peristiwa pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Salah satu putri Tiongkok bernama Ong Tien Nio dari Negeri Tar Tar.
Pengaruh agama Islam dalam ornamen batik Cirebon tampak pada motif Ayam Alas (Sawung Galing) yakni motif ayam jago sedang berkokok. Motif ini merupakan symbol sikap keberanian. Sementara itu, sikap kepasrahan pada sang Maha Pencipta juga ditentukan dalam ajaran meditasi zikir khas Cirebon, dapat dilihat daiam motif Patran Kangkung.

Motif ini juga memperlihatkan pengaruh motif batik Mataram, di mana pengaruh ini diperkirakan terjadi karena pernikahan Sultan Agung dengan Putri Keraton Cirebon, yaitu Putri Kulon pada tahuu 1620 Ragam hias batik keraton terbagi daiam dua jenis, pertania yang biasa dipergunakan para punggawa atau abdi dalem yang memiliki ragam bias yang kuat dan besar. Jenis yang kedua, yang biasa dipergunakan para ningrat, ragam hiasnya halus dan kecil. Warna~warna batik keraton asli Cirebon, umumnya berwarna sogan, hitam, biru tua dan kuning.
Masuknya Beianda ke Indonesia menandai perubahan peran dan fungsi batik-batik di Keraton Cirebon. Batik Keraton pun bebas dikenakan oleh siapa saja baik raja ataupun rakyat biasa karena motif tersebut telah menjadi bagian dari keseharian yang tak terpisahkan. Faktor iainnya adalah perkembangan Islam yang menepis adanya perbedaan dengan pemisahan kelas di antara masyarakat serta kaum pemimpin. Kalaupun ada batik keraton yang mahal dan mampu dibeli oleh segelintir orang, itu hanyalah sebuah legitimasi atas status “kekayaan” orang tersebut terlepas dari goiongan mana ia berasal. Batik Keraton kini banyak diproduksi di daerah Trusmi yang merupakan satu-satunya Sentra perbatikan Cirebon.

Beberapa hal panting yang bisa dijadikan keunggulan (ciri khas) batik Cirebon dibandingkan dengan produksi batik dari daerah lain adalah sebagai berikut:

1. Batik Cirebonan untuk desain-desain klasik tradisional biasanya Selalu mengikutsertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian motif tertentu. Di sampiug itu, ada uusuif ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya

2. Batik Cirebonan tradisional/kiasik seialu bercirikan latar belakang(dasar kain) berwarna lebih muda dibandingkan dengan warna garis motif utamanya

3. Bagian latar/dasar kain biasanya bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki akibat penggunaan lilin yang pecah sehingga pada proses pewarnaan mengakibatkan zat warna yang, tidak dikehendaki menempel pada kain, ‘

4. Garis~garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam peunutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus (canting tembok dan bleber).

5. Warna-warna batik Cirebonan klasik biasanya dominan Warna kuning, hitam (sogan gosok), dan Warna dasar krem, sebagian lagi berwarna merah tua, biru, hitam dengan dasar Warna kain krem atau putih gading.

Kelima ciri tersebut merupakan hal teknis keunggulan batik Cirebonan klasik/ tradisional.

 

Sumber: Buku BATIK karya ADI KUSRIANTO

==============================================

Kami menerima cetak batik desain sesuai pesanan & terima jahitan dalam jumlah besar/masal. info lebih lanjut bisa hubungi:
Telp/WA:  081908323679 a.n Bpk. Hantiar

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *